This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Tuesday, April 5, 2016

Penyebab Hasil Kreativitas Anda Kurang Dihargai : Kependudukan (1)



Hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkapkan bahwa pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) masih terus dilakukan dalam dunia pendidikan, khususnya diperguruan tinggi. Berdasarkan penelitian tersebut pelanggaran HAKI yang paling banyak dilakukan adalah fotokopi buku dengan persentase 79% oleh dosen dan 54,7% oleh mahasiswa.[1]
Ada 4 (empat) cara menghargai hasil karya orang lain. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan software yang asli atau dengan membeli nomor lisensi.
2. Tidak melakukan duplikasi, membajak, atau menyalin tanpa seizin perusahaan/pemilik.
3. Tidak memodifikasi (mengubah), menguruangi, atau menambah hasil karya orang lain tanpa seizin perusahaan/pemilik.
4. Tidak melakukan untuk tindakan kriminal.
Berdasarkan penelitian Business Software Alliance (BSA) pada tahun 2009, buruknya tingkat penghargaan hasil karya orang lain menempatkan Indonesia pada urutan ke 12 sebagai negara dengan tingkat pembajakan tertinggi di dunia.
Undang-Undang hak Cipta No 19 Tahun 2002 Pasal 72 dengan tegas memberi sanksi kepada mereka yang sengaja atau tanpa sengaja melakukan pelanggaran terhadap hasil kreativitas orang lain. Sanksi paling ringan ( 1 bulan penjara dan denda Rp. 1.000.000 rupiah) dan sanksi paling berat ( 5 tahun penjara dan denda Rp. 1.500.000.000 rupiah) tersedia bagi mereka yang melakukan pelanggaran hak cipta.
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) turut ambil bagian dalam perkembangan teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia. Ke dua Undang-Undang tersebut dianggap “nyeleneh” serta tidak memberikan dampak jera kepada mereka yang melakukan pembajakan software, film, dan lagu. Dengan nyata mereka dapat mendistribusikan hasil bajakan tersebut dengan bebas hingga pinggir jalan sekali pun.
Sebuah survey sederhana dilakukan oleh penulis di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Lahewa Kabupaten Nias Utara. Survey ini sejalan dengan profesi penulis sebagai guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di kelas X pada materi pelajaran “Ketentuan dan Aturan dalam Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi.”
 Dari 42 orang siswa yang diberi tugas “mengapa tingkat pembajakan di Indonesia masih tinggi?”  didapatkan hasil bahwa ekonomi masyarakat merupakan penyebab utama tingginya tingkat pembajakan di Indonesia.
 
Dari data tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa 32 orang siswa memilih ekonomi sebagai penyebab utama  tingkat pembajakan yang semakin tinggi di Indonesia. Angka ini menyumbang 76% dari semua siswa. Pendidikan 14%, Minat atau permintaan masyarakat terhadap software bajakan menempati posisi ke tiga yaitu 5%. Teknologi yang semakin canggih dan aturan serta sanksi yang kurang tegas dari pihak yang berwenang menempati urutan ke empat dan ke lima.
Dari survey kecil tersebut, buruknya ekonomi masyarakat menjadi penyabab utama tingginya tingkat pembajakan di Indonesia. Apakah buruknya ekonomi masyarakat merupakan faktor utama? Penjelasannya adalah sebagai berikut.
1.     Ekonomi
Upah minimum tenaga kerja di Indonesia berada pada angka Rp. 1.500.000 rupiah. Angka diperoleh dari pendapatan rata-rata tenaga kerja Indonesia hingga awal tahun 2015. Pada tahun 2015, Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak 252 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1,99% pertahun (2010-2014). Jika usia produktif berada pada usia 19 tahun ke atas maka sekitar 5 juta penduduk Indonesia tidak mendapat penghasilan Rp. 1,5 juta rupiah setiap bulannya. 5 juta penduduk ini tidak memiliki pekerjaan. Penghasilan Rp. 1,5 juta rupiah setiap bulan yang diperoleh oleh sebagian tenaga kerja di Indonesia tentu sangat besar jika dibandingkan dengan penghasilan tenaga kerja profesional seperti guru yang mengabdi sebagai honorer di desa dengan penghasilan Rp. 300 ribu rupiah setiap bulannya. Apakah penghasilan tenaga kerja ini perlu direvisi kembali? Statistik Indonesia 2016 diharapkan dapat menjawabnya.
 
5 juta penduduk Indonesia tidak bekerja. Jelas, mereka bukanlah individu yang mempu membeli sofware, film, dan lagu yang asli. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengangguran menyumbangkan 2% sebagai penyebab tingkat pembajakan di Indonesia masih tinggi. Masalah yang timbul adalah tingginya angka pengangguran.
Jika Rp. 1.500.000 merupakan penghasilan untuk semua jenis pekerjaan maka permasalahan yang muncul adalah pendapatan masyarakat Indonesia rendah. Jika pemisalan dilakukan untuk penduduk Indonesia yang masih meniti karir/kuliah/menuntut ilmu pada usia 20-24 tahun, maka 10,5 juta penduduk Indonesia pada usia 25-60 tahun memiliki masalah pada pendapatan yang rendah. Angka ini menyumbang 4,2% sebagai penyebab tingginya angka pembajakan di Indonesia. Harga perangkat lunak yang mencapai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah tidak mampu dibeli dari sisa pendapatan yang diperoleh.
Jika usia produktif adalah 25-60 tahun dan telah memiliki keluarga, maka masalah yang dihadapi adalah biaya hidup keluarga besar. Secara keseluruhan, setiap rumah tangga di Indonesia memiliki anggota keluarga 4 orang. Penghasilan orang tua (ayah+ibu) Rp. 3.000.000 rupiah setiap bulannya harus dapat memenuhi kebutuhan satu keluarga. Besarnya biaya hidup menyumbang 35% sebagai penyebab angka pembajakan di Indonesia masih tergolong tinggi.

Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa buruknya ekonomi masyarakat  menyumbangkan angka yang besar yaitu 41,5% sebagai penyebab rendahnya penghargaan terhadap kreativitas orang lain di Indonesia.
Dari penjelasan di atas, buruknya ekonomi masyarakat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penghargaan hasil kreativitas orang lain di Indonesia. Permalahan yang timbul adalah buruknya ekonomi masyarakat. Akar dari permasalahan tersebut adalah kependudukan. Perhatikan penjelasan berikut ini.
Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke empat sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Badan PBB Bidang Kependudukan juga telah memprediksi bahwa Indonesia akan masuk ke dalam lima negara penyumbang pertambahan penduduk dunia sampai tahun 2050 bersama dengan India, Pakistan, Brazil dan Nigeria.
Setiap tahun Indonesia mengalami pertambahan penduduk. Pada tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia 252 juta jiwa dan akan terus bertambah setiap tahun. Jika program Keluarga Berencana (KB) berhasil maka pada tahun 2050 penduduk Indonesia berada pada angka 320 juta jiwa tetapi jika program KB gagal maka pada tahun yang sama penduduk Indonesia akan mencapai 390 juta jiwa.
Secara logika, pertambahan penduduk setiap tahun akan berdampak baik bagi Indonesia. Semakin banyak penduduk maka barang dan  jasa yang dihasilkan juga akan semakin banyak.
“barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara tidak semata-mata tergantung pada jumlah penduduk saja, tetapi lebih pada efektifitas dan produktifitas”
Ternyata kalimat yang menyatakan “semakin banyak penduduk maka barang dan  jasa yang dihasilkan juga akan semakin banyak” adalah salah. Pada tahun 2014, GDP (Gross Domestic Bruto) Indonesia berada pada angka 5,0 dengan jumlah pendududk 252 juta jiwa. Hal ini tidak sebanding dengan negara Filipina pada tahun yang sama, Real GDP berada pada 6,1  dengan jumlah penduduk 100 juta jiwa. Dari data tersebut sangat jelas bahwa barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara tidak semata-mata tergantung pada jumlah penduduk saja, tetapi lebih pada efesiensi dan produktivitas penduduk tersebut.
Banyak ada banyak rezeki. Kalimat ini sungguh bertolah belakang jika diterapkan pada kehidupan berumah tangga dewasa ini. Bukankah suatu pekerjaan akan cepat selesai jika dikerjakan oleh banyak orang? 7,7 juta jiwa penduduk Indonesia sedang menganggur. Permasalahan ini timbul apabila setiap peningkatan penduduk menyebabkan suatu penyusutan pada sumber penghasilan perkapita yang wajar.
“Permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini adalah alat pemenuhan kebutuhan terbatas”
Setiap keluarga yang telah terbentuk menginginkan keluarga yang sejahtera. Kesejahteraan keluarga bisa diartikan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup keluarga berupa kebutuhan jasmani (makanan bergizi, pakaian, perumahan dan sebagainya) dan kebutuhan rohani (keamanan, cinta kasih, kedamaian dan kebahagiaan). Jika sebuah keluarga memiliki 4 orang anak dengan penghasilan 1,5 juta setiap bulannya maka dapat dipastikan semua kebutuhan anggota keluarganya tidak terpenuhi. Jumlah anggota keluarga sangat berpengaruh terhadap kemampuan sebuah keluarga memiliki rumah yang sehat.
Buruknya ekonomi masyarakat berdampak pada kemiskinan. Hubungan antara kemiskinan dan jumlah penduduk merupakan hubungan yang kompleks. Namun banyak studi pada tingkat rumah tangga memperlihatkan bahwa tingkat kelahiran yang rendah akan meningkatkan pendapatan bagi perempuan (ibu) dan keluarga yang kecil memiliki kemampuan besar dalam menyekolahkan anaknya. Studi lain memperlihatkan bahwa penurunan kemiskinan berdampak pada peningkatan partisipasi perempuan dalam lapangan kerja sehingga meningkatkan pendapatan keluarga dan pada akhirnya mengentaskan kemiskinan.
Kepadatan penduduk juga akan mempengaruhi pada kebutuhan pangan, energi dan air. Badan PBB untuk urusan pangan (FAO) memperkirakan bahwa kebutuhan pangan dunia pada tahun 2050 akan meningkat 70% dari kondisi saat ini, dengan asumsi penduduk dunia pada tahun 2050 berjumlah sekitar 9,3 miliar. Lalu bagaimana jika penduduk dunia meningkat menjadi 10,6 miliar? Sudah bisa dipastikan kebutuhan untuk lapangan kerja, infrastruktur, dan pelayanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, perumahan akan semakin naik.
Dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk yang besar memberikan pengaruh yang besar terhadap ekonomi masyarakat. Jumlah anggota keluarga menentukan jumlah penduduk. Jumlah anggota keluarga  sangat berpengaruh terhadap kemampuan sebuah keluarga memiliki rumah yang sehat, pendidikan sehingga pada akhirnya tercipta sumber daya manusia yang memiliki produktifitas dan efesiensi yang tinggi. 2 anak lebih baik.
Sumber:
Hidayat, Rudi. Teknologi Informasi dan Komunikasi. 2011. Jakarta : Erlangga
M, David. Masalah Kependudukan di Negara berkembang. 1985. Jakarta : PT. Bina Aksara
Bps.go.id


[1] Yrci.or.id, Wow, Fotocopi Buku Jadi Lahan Dosen Cari ‘Sampingan’, www.yrci.or.id/undanga-seminar-international/, diakses 5 April 2016, jam 08.40 WIB

Tuesday, February 16, 2016

Indonesia kekurangan guru atau kelebihan guru?



Pada tanggal 25 Januari 2016, SMA Negeri 1 Lahewa mengadakan rapat guru, komite, dan orang tua siswa. Rapat yang ini membahas tentang besar sumbangan orang tua untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.
Sumbangan orang tua dalam bentuk uang sekolah ini harus mengalami kenaikan sebesar 10 ribu rupiah yaitu dari 50 ribu rupiah perbulannya menjadi 60 ribu rupiah. Kenaikan uang sekolah ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah jam mengajar yang harus dibayar komite kepada guru honorer.
Hampir semua orang tua siswa tidak setuju dengan kenaikan uang sekolah tersebut. Banyak diantara mereka merasa keberatan jika dilakukan perubahan uang sekolah. Banyak diantara mereka memberikan pertanyaan yang sederhana tetapi memberi makna yang sangat besar. Pertanyaan itu adalah Indonesia telah merdeka 70 tahun dari penjajah tetapi masalahnya tetap sama yaitu kekurangan guru. Kami ingin uang sekolah ditiadakan bukan ditambah.
Negara kita kekurangan guru atau kelebihan guru? Sebuah pertanyaan yang sangat unik dan perlu ditelaah lebih lanjut. Di daerah terpencil, banyak sekolah sangat membutuhkan tenaga guru. Lalu di daerah itu juga, banyak orang tua kesusahan membayar uang sekolah anaknya. Siapa yang perlu disejahterakan? Guru atau orang tua. Jawabannya tentu kedua-duanya.
Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah kuncinya. Penempatan dan pemidahan guru pegawai negeri sipil harus diperhatikan oleh pemerintah. Penempatan akan memberikan dampak positif terhadap sekolah yang akan ditempati karena akan mengurangi beban orang tua. Hasilnya adalah komite tidak membayar jam mengajar tersebut kepada guru honorer. Pemindahan akan memberikan dampak negatif jika tidak ada pengganti guru PNS tersebut. Mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang pindah tersebut akan dilimpahkan kepada guru honorer yang akhirnya akan menambah beban orang tua.

Inilah Indonesia 2016

 
Ada hal menarik dengan Statistik Indonesia 2015 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Hal menarik itu adalah tampilan sampul bab 3 dari booklet tersebut. Seorang pencari kerja yang sedang menenteng sebuah tas. Coba perhatikan ekspresi dari pria tersebut. Loyo, kurang semangat dan mungkin penuh masalah.  Ya. Banyak persepsi yang akan muncul ketika Anda sendiri yang melihat sampul bab 3 ini. Anda penasaran? Download langsung di sini. Bandingkan statistik Indonesia tahun 2013 di sini.
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Pada tahun 2014, jumlah penduduk Indonesia tercatat sebanyak 252 164 juta jiwa. Perhatikan tabel 1. Jumlah ini sangat berbeda jauh jika Anda bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2011 dengan jumlah penduduk 243 740. Ada kenaikan penduduk 8,5 juta jiwa selama 3 tahun terakhir.
 
Tabel 1. Jumlah penduduk Indonesia menurut provinsi
Hal menarik yang tidak kalah pentingnya adalah angka pengangguran. Pada akhir tahun 2014, angka pengangguran berada pada angka 7,7 juta. Apakah angka ini yang membuat sampul bab 3 didesain sangat menyayat hati dan perasaan? Mungkin saja.
Tabel 2. Jumlah angkatan kerja
Lalu bagaimana persentase penduduk indonesia menurut pendidikan tertinggi. Perhatikan tabel 3. Pada tahun 2014, pada tingkat pendidikan terendah, penduduk Indonesia yang telah tamat SD adalah 118147 ribu orang dan pada tingkat tertinggi, penduduk Indonesia yang telah menamatkan diri di perguruan tinggi adalah 88171 ribu orang.
 
Tabel 3. Penduduk menurut pendidikan tertinggi
Fakta lain yang tidak kalah penting adalah kemiskinan. Penduduk miskin yang tinggal di desa adalah 17,37 juta penduduk atau mewakili 7 % penduduk dan jumlah penduduk miskin diperkotaan adalah 10,36 atau mewakili 4,1 % dari total penduduk. Angka ini turun drastis jika Anda bandingkan dengan angka kemiskinan pada tahun 2012. Baca perbandingannya di sini.
 
Dari semua fakta kehidupan bangsa ini, letak permasalahan sebenarnya adalah kependudukan. Solusinya adalah penduduk Indonesia yang berusia 15-44 tahun atau mewakili setengah dari jumlah penduduk Indonesia harus mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kepadatan penduduk dan turut ambil bagian sebagai motivator keluarga berencana.

Tuesday, August 5, 2014

Rumah Lingkungan. Peran teknologi komunikasi untuk menjaga lingkungan hidup

Teknologi komunikasi dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu wujud kepedulian masyarakat tersebut adalah menjaga lingkungan hidup. Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada disekitar manusia atau makhluk hidup yang memiliki hubungan timbal balik dan kompleks serta saling mempengaruhi antara satu komponen dengan komponen lainnya. Kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk yang utama dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? Karena manusia merupakan bagian dari ekologi.


Pada dasarnya lingkungan akan terus bekerja untuk menetralisir semua aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan lingkungan tersebut. Tumbuhan terus berfotosintesis dan menghasilkan Oksigen. Tapi, kemampuan lingkungan untuk memasok sumber daya dan untuk mengasimilasi zat pencemar adalah sangat terbatas. Batas kemampuan ini disebut dengandaya dukung lingkungan. Kenaikan kualitas hidup manusia disertai dengan keanikan tingkat konsumsi sumber daya dan pencemaran.
Ada empat faktor yang mempengaruhi lingkungan, yaitu 1) penduduk, 2) materiil, 3) struktur masyarakat, 4) budaya. Teknologi komunikasi akan memberikan solusi pada dua faktor yang mempengaruhi lingkungan. Solusi tersebut adalah memberikan pemahaman tentang perbaikan tempat tinggal serta membenahi struktur masyarakat.  
Rumah Lingkungan merupakan cara teknologi komunikasi untuk menjaga lingkungan. Dengan rumah lingkungan, diharapkan masyarakat akan mengetahui cara mencegah dan memperbaiki tempat tinggal sehingga pada akhirnya akan membenahi struktur masyarakat. Teknologi komunikasi merupakan penyedia dan penyalur informasi mengenai lingkungan hidup.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan pendidikan tentang lingkungan hidup dalam konteks internalisasi secara langsung maupun tidak langsung dalam membentuk kepribadian mandiri serta pola tindak dan pola pikir perserta didik/mahasiswa/peserta diklat sehingga dapat merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan upaya melestarikan dan menjaga lingkungan serta ekosistem kehidupan makhluk hidup yang dapat memberikan konstribusi pada keberlangsungan kehidupan yang seimbang dan harmonis.


Teknologi komunikasi menjadi media yang akan menyalurkan pendidikan lingkungan hidup kepada semua orang orang tanpa batasan umur. Pendidikan lingkungan hidup merupakan pendidikan untuk semua masyarakat, tetapi Gap ditemukan untuk menerapkan pendidikan itu di sekolah, kampus, instansi dan masyarakat. Pada celah tersebut, teknologi komunikasi menjadi solusi. Pendidikan lingkungan hidup dapat disalurkan tanpa batasan umur, tempat dan waktu. Rumah lingkungan adalah solusinya.
Siapa Rumah Lingkungan?
Rumah Lingkungan adalah sebuah website yang diwadahi oleh pemerintah terkait, masyarakat, dan atau penyedia teknologi komunikasi di Indonesia. Rumah Lingkungan akan siap memberikan informasi tentang isu lingkungan, cara menjaga lingkungan dan pengetahuan lingkungan hidup.  Setiap pengunjung website bisa memberikan laporan tentang lingkungan, komentar dan turut menyebarkan isu lingkungan dan cara pencegahannya.
Anak lingkungan demikianlah sebutan untuk meraka yang ikut berkampanye menyelamatkan lingkungan. Kampanye dilakukan dengan mengunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, Google+, Instagram, Kaskus, dan media sosial yang lain. Dikehidupan nyata, anak lingkungan bisa menjadi duta lingkungan. Mereka bisa melaporkan action yang meraka lakukan ke Rumah Lingkungan untuk diapresiasikan dan diikuti oleh orang banyak.
Rumah Lingkungan. Rumahnya pecinta lingkungan akan hadir langsung di gadget dan smartphone penggunanya. Dengan aplikasi Rumah Lingkungan, setiap anak lingkungan dengan mudah mendapat informasi, aktivitas dan semua hal-hal yang dilakukan oleh anak lingkungan yang lain. Trending topic mengenai lingkungan hidup bisa diwujudkan melalui tindakan ini.
Rumah Lingkungan tidak hanya hadir di website, gadget, dan smartphone tetapi juga menghadirkan spot berkala di lingkungan kampus, sekolah dan tempat umum. Pelatihan dan penanaman pohon dapat menjadi action nyata yang didapatkan dari Rumah Lingkungan. Dengan kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat luas untuk ikut serta melestarikan lingkungan.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Darmono. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. 2001. Jakarta : Universitas Indonesia.
Daryanto, 2013. Pengantar Pendidikan Lingkungan Hidup. Yogyakarta : Gaya Media
Haryono, Paulus, 2007. Sosiologi Kota Untuk Arsitek. Jakarta : Bumi Aksara

Monday, July 14, 2014

Pendidikan Lingkungan Hidup Adalah Action Untuk Mengatasi Permasalahan Drainase Perkotaan

Banjir merupakan kejadian yang sudah dianggap wajar di Indonesia. Dibeberapa kota besar, banjir merupakan teman wajib disaat musim hujan. Salah satu penyebab banjir di Indonesia adalah sampah. Ibu kota Jakarta sering dilanda banjir karena pengelolaan yang kurang baik.[1]
Jika dirunut ke belakang, akar permasalahan banjir diperkotaan berawal dari pertambahan penduduk yang sangat cepat, migrasi dan urbanisasi penduduk. Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan penyediaan prasarana dan sarana perkotaan yang memadai mengakibatkan pemanfaatan lahan perkotaan acak-acakan. Urbanisasi yang terjadi di Indonesia menambah beban daerah perkotaan menjadi berat. Kebutuhan akan lahan, baik untuk permukiman maupun kegiatan perekonomian meningkat sehingga lahan yang berfungsi sebagai retensi atau resapan menurun. Akibatnya aliran permukaan semakin besar. [2] Perubahan fungsi lahan terbuka menjadi daerah pemukiman atau bangunan industri mengakibatkan erosi dan banjir.


Faktor budaya turut ambil bagian dalam permasalahan drainase perkotaan. Budaya tersebut telah mengakar dan menjadi bagaian kehidupan masyarakat yang sulit diubah. Tingkat kesadaran masyarakat perkotaan terhadap lingkungan tempat tinggal sendiri sangat rendah. Sampah dibuang sembarangan. Sungai dan parit menjadi tempat empuk untuk menghilangkan jejak sampah dengan volume yang besar. Kesadaran untuk turut ambil bagian hanya timbul ketika bencana banjir telah datang.


Kebiasaan mahasiswa yang tinggal di kos atau tempat kontrakan sering meletakan keranjang sampah di luar kamar atau di halaman rumah. Kenyataannya adalah mahasiswa tidak peduli dengan sampah yang berceceran di luar kamar atau halaman rumah. Sampah tersebut lama kelamaan akan menumpuk dan banyak. Action yang berbeda timbul ketika keranjang sampah tersebut diletakan di dalam kamar. Sebelum keranjang sampah tersebut penuh maka pemiliknya segera membuangnya dengan satu alasan “bauk”. Kesimpulannya adalah ketika sampah masih belum memberikan masalah maka sampah tersebut bukan siapa-siapa.
Pada pemahaman lain, membuang sampah sembarangan adalah hal yang wajar dan harus dilakukan. Kewajaran tersebut muncul ketika seseorang yang telah menikmati minuman dan tidak tahu dimana seharusnya membuang kemasan minuman tersebut. Halte dan lampu merah merupakan tempat yang rentan.
Action itulah yang diperlukan. Action mempunyai hubungan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Pendidikan Lingkungan Hidup yang hilang dari masyarakat seakan mendukung budaya masyarakat yang tidak mau tahu dengan lingkungannya. Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan pendidikan tentang lingkungan hidup dalam konteks internalisasi secara langsung maupun tidak langsung dalam membentuk kepribadian mandiri serta pola tindak dan pola pikir perserta didik/mahasiswa/peserta diklat sehingga dapat merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan upaya melestarikan dan menjaga lingkungan serta ekosistem kehidupan makhluk hidup yang dapat memberikan konstribusi pada keberlangsungan kehidupan yang seimbang dan harmonis.
Sebagian besar mahasiswa di perguruan tinggi mendapat perkuliahan tentang lingkungan. Sebut saja mata kuliah Rekayasa Lingkungan, Manajemen Konstruksi, Ekonomi Teknik, Fisika Bangunan serta banyak mata kuliah yang lain yang berbicara tentang lingkungan. Jelas, secara umum mahasiswa Jurusan Teknik yang telah dan akan mempelajarinya. Siswa di bangku Sekolah Menengah Atas (SMK), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendapatkan pelajaran Biologi sebagai mata pelajaran yang memperkenalkan kepada siswa tentang lingkungan hidup dan polusi. Pemahaman yang mendalam dan action dari pemahaman tersebut secara umum tidak didapatkan oleh siswa di bangku sekolah pertama dan menengah.
Pendidikan Lingkungan Hidup menjadi salah satu Mata Pelajaran wajib bagi siswa sekolah dasar hingga menengah. Hal ini didasari pada masalah lingkungan hidup yang disebabkan karena ketidakmampuan mengembangkan sistem nilai sosial, gaya hidup yang tidak mampu selaras dengan lingkungan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal merupakan salah satu sarana yang tepat untuk membangun masyarakat yang menerapkan prinsip berkelanjutan dan etika lingkungan. Anak/siswa yang mendapatkan pengetahuan tentang lingkungan hidup merupakan pengetahuan awal sehingga setiap warga negara memiliki pengetahuan tentang lingkungan biofisik serta menumbuhkan kesadaran agar terlibat secara efektif dalam memberikan solusi dari permasalahan lingkungan yang terjadi


Tong Sampah Pinggir Jalan
Untuk menumbuhkan Action sebagai hasil dari Pendidikan Lingkungan Hidup, maka pembangunan tong sampah atau bak sampah pada tempat-tempat umum sangat efektif. Tong sampah diletakan disekitar halte, lampu merah dan taman. Dengan meletakkan tong sampah di tempat umum tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang dengan sembarang. Satu hal yang perlu diketahui oleh pemerintah adalah  setiap kebijakan publik harus melibatkan masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan tong sampah harus melibatkan warga sekitar. Pendidikan Lingkungan Hidup mengambil bagian yang penting untuk mewujudkan masyarakat yang sadar akan lingkungan hidup. PLH dapat meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki dari masyarakat terhadap fasilitas yang telah dibangun oleh pemerintah. Action dari PLH menghilangkan kesan bahwa sarana dan prasarana yang telah dibangun oleh pemerintah semata-mata milik pemerintah sehingga masyarakat tidak peduli untuk merawatnya.


[1] Merdeka.com, Ahok kesal pengelolaan sampak DKI masih buruk, http://www.merdeka.com/jakarta/ahok-kesal-pengelolaan-sampah-dki-masih-buruk.html. 15 Juni 2014 (09.00)
[2] Air hujan yang mengalir dipermukaan tanah

Sunday, June 22, 2014

Pendidikan Lingkungan Hidup Salah Satu Upaya Memberikan Pemahaman Tentang Perbaikan Tempat Tinggal

A.   Latar Belakang
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan pendidikan tentang lingkungan hidup dalam konteks internalisasi secara langsung maupun tidak langsung dalam membentuk kepribadian mandiri serta pola tindak dan pola pikir perserta didik/mahasiswa/peserta diklat sehingga dapat merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan upaya melestarikan dan menjaga lingkungan serta ekosistem kehidupan makhluk hidup yang dapat memberikan konstribusi pada keberlangsungan kehidupan yang seimbang dan harmonis.
Sebagian besar mahasiswa di perguruan tinggi mendapat perkuliahan tentang lingkungan. Sebut saja mata kuliah Rekayasa Lingkungan, Manajemen Konstruksi, Ekonomi Teknik, Fisika Bangunan serta banyak mata kuliah yang lain yang berbicara tentang lingkungan. Jelas, secara umum mahasiswa Jurusan Teknik yang telah dan akan mempelajarinya. Lalu, apakah mahasiswa jurusan dan fakultas lain telah mengetahui dan mempelajarinya?

Siswa di bangku Sekolah Menengah Atas (SMK), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendapatkan pelajaran Biologi sebagai mata pelajaran yang memperkenalkan kepada siswa tentang lingkungan hidup dan polusi. Pemahaman yang mendalam dan action dari pemahaman tersebut secara umum tidak didapatkan oleh siswa di bangku sekolah pertama dan menengah.
Materi PLH terdiri tiga unsur penting yakni hati, pikiran dan tangan. Satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Proses yang paling penting adalah membangkitkan kesadaran manusia terhadap lingkungan hidup sekitarnya (hati). Jika proses penyadaran telah terjadi, maka peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan hidup (pikiran) akan berhasil. Proses terakhir adalah action yaitu peningkatan keterampilan dalam mengelolah lingkungan hidup (tangan).


B.   Pendidikan Lingkungan Hidup
1.    Masalah Lingkungan
Pertambahan penduduk Indonesia yang sangat cepat menyebabkan meningkatnya segala kebutuhan setiap penduduk baik perorangan dan kebutuhan sosial. Setiap individu selalu ingin memenuhi kebutuhannya dan pemerintah dituntut untuk mengatur perekonomian sehingga kebutuhan yang diperlukan oleh semua penduduk terpenuhi.
Masalah lingkungan hidup yang dihadapi sekarang diakibatkan kesadaran masyarakat tentang lingkungan hidup yang sehat sangat kurang. Tindakan individu yang tidak pernah puas dengan kebutuhannya melakukan tindakan yang bisa merusak lingkungan.
2.    Ruang Lingkup Pendidikan Lingkungan Hidup
Persoalan lingkungan hidup merupakan persoalan sistemik, komplek serta memiliki cakupan yang luas. Oleh sebab itu, materi atau isu yang diangkat dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan lingkungan hidup juga sangat beragam. Sesuai dengan kesepakatan nasioanl tentang Pembangunan Berkelanjutan yang ditetapkan dalam Indonesian Summit on Sustainable (ISSD) di Yogyakarta.
Ketiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan yang bersiafat salang ketergantungan dan saling memperkuat.
a.    Pilar Ekonomi, menekankan pada perubahan sistem ekonomi agar semakin ramah terhadap lingkungan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Isu atau materi yang berkaitan adalah pola konsumsi dan produksi, teknologi bersih, kehutanan dan industri.
b.    Pilar Sosial, menekankan pada upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Isu atau materi yang berkaitan adalah kemiskinan, kesehatan, budaya lokal, masyarakat pedesaan/kota/terpencil, hukum dan pengawasan.
c.    Pilar Lingkungan, menekankan pada pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan. Isu atau materi yang berkaitan adalah pengelolaan sumber daya air, lahan, udara, laut dan penataan ruang.
3.    Tujuan Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup
Tujuan pendidikan lingkungan hidup adalah sebagai berikut:
a.    Kesadaran, yaitu memberikan dorongan kepada setiap individu untuk memperloeh kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan dan masalahnya.
b.    Pengetahuan, yaitu membantu setiap individu untuk memperoleh berbagai pengalaman dam pemahaman dasar tentang lingkungan dan masalahnya.
c.    Sikap, yaitu membantu setiap individu untuk memperoleh seperangkat nilai dan kemampuan mendapat pilihan yang tepat, serta mengembangkan perasaan peka terhadap lingkungan dan memberikan motivasi untuk berperan serta secara aktif di dalam peningkatan dan perlindungan lingkungan.
d.    Keterampilan, yaitu membantu setiap individu untuk memperoleh keterampilan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah lingkungan.
e.    Partisipasi, yaitu memberikan motivasi kepada setiap individu untuk perperan secara aktif dalam pemecahan masalah lingkungan.
f.     Evaluasi, yaitu mendorong setiap individu agar memiliki kemampuan mengevaluasi pengetahuan lingkungan ditinjau dari ekologi, sosial, ekonomi, politik dan faktor-faktor pendidikan.
4.    Strategi Pelaksanaan
Strategi Pelaksanaan Pendidikan Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut:
a.    Meningkatkan kualitas dan kemampuan SDM PLH, baik pelaku maupun kelompok sasaran Pendidikan Lingkungan Hidup sedini mungkin melalui upaya  proaktif dan reaktif.
b.    Mengoptimalkan sarana dan prasarana Pendidikan Lingkungan Hidup yang dapat terciptanya proses pembelalajaran yang efesien dan efektif.
c.    Meningkatkan anggaran Pendidikan Lingkungan Hidup.
d.    Materi Pendidikan Lingkungan Hidup sesuai denga isu lokal, modern, dan global.
e.    Mendorong ketersediaan ruang partisipasi bagi masyarakat luas.

5.    Saran
Untuk mendorong strategi pelakasanaan Pendidikan Lingkungan Hidup, saran yang bisa penulis berikan adalah:
a.    Pendidikan Lingkungan Hidup menjadi Mata Kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa.
b.    Pendidikan Lingkungan Hidup menjadi salah satu Mata Pelajaran bagi siswa sekolah dasar hingga menengah. Hal ini didasari pada masalah lingkungan hidup disebabkan karena ketidakmampuan mengembangkan sistem nilai sosial, gaya hidup yang tidak mampu selaras dengan lingkungan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal merupakan salah satu sarana yang tepat untuk membangun masyarakat yang menerapkan prinsip berkelanjutan dan etika lingkungan. Anak/siswa yang mendapatkan pengetahuan tentang lingkungan hidup merupakan pengetahuan awal sehingga setiap warga negara memiliki pengetahuan tentang lingkungan biofisik serta menumbuhkan kesadaran agar terlibat secara efektif dalam memberikan solusi dari permasalahan lingkungan yang terjadi.
c.    Sosialisasi mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) kepada mahasiswa sering dilakukan dan sosialisai mengenai lingkungan hidup untuk siswa SD, SMP, dan SMA/K dan mengajak mereka turut aktif dalam kebisaan hidup sehat.
d.    Sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai lingkungan hidup dan mengajak mereka turut aktif menjaga lingkungan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Daryanto, 2013, Pengantar Pendidikan Lingkungan Hidup, Yogyakarta : Gava Media

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More