This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, June 12, 2014

Solusi #2 : Pembangunan Rumah Susun

Berkumpulnya penduduk di kota menyebabkan kepadatan penduduk tinggi. Saat lahan yang sempit dihuni oleh banyak orang, maka lahan semakin langka dan tinggi nilainya. Kelangkaan lahan dengan nilai yang tinggi mengharuskan kalangan masyarakat bawah memilih alternatif rumah susun sebagai tempat tinggal.
Pembangunan rumah susun berpangkal dari derasnya urbanisasi untuk mencari kesempatan kerja di kota-kota besar. Tidak setiap kota dapat menampung arus urbanisasi yang deras tersebut. Terlebih apabila kaum urbanis tidak memiliki akses yang mampu memenuhi standar kebutuhan tenaga kerja yang layak di kota (SDM masih rendah), maka lahirlah kaum marjinal baru yang mengisi sudut-sudut kota.
Kawasan yang ditempati oleh kaum marjinal dapat dikategorikan menjadi dua jenis, pertama, di daerah yang disebut slum, yaitu kawasan permukiman kumuh di atas lahan yang statusnya legal sebagai kawasan untuk bermukim. Tempat tinggal yang sederhana dengan tembok bata, papan, dan potongan kardus. Jenis yang kedua adalah squatter, yaitu kawasan permukiman kumuh yang terletak di atas lahan yang statusnya ilegal sebagai kawasan untuk bermukim seperti bantaran sungai dan dekat rel kereta api.

Rumah susun diharapkan mampu menjadi tempat hunian yang ‘layak’. Walaupun ditemukan masalah dari berbagai aspek tetapi bisa diatasi dengan desain rumah susun yang bercorak komunal dan natural bisa menjadi solusinya.

Solusi #1 : Generasi Muda Adalah Kunci

Generasi muda merupakan kunci keberhasilan dalam mengurangi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Keluarga kecil bahagia sejahtera akan terwujud jika generasi muda telah sadar akan pentingnya keluarga berencana dan mengetahui masalah yang dari pertambahan jumlah penduduk. Mengapa generasi muda menjadi kunci? Inilah uraiannya.
Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2011, usia 15 – 19 tahun sebanyak 21558 (ribu) atau mewakili 8,85% penduduk Indonesia dan usia 20 – 24 tahun berada pada angka 20444 (ribu) atau 8,38% dari total penduduk. Usia 25 – 29 tahun mewakili penduduk Indonesia 8,61% (21007 ribu) dan usia 30 – 44 tahun sebanyak 56621 (ribu) jiwa atau 23,23% dari jumlah penduduk. Apa yang menjadi kesimpulan dari data ini? Ternyata, negara kita memiliki jumlah generasi muda yang cukup besar. Generasi inilah yang diharapkan memiliki pengetahuan tentang reproduksi dan keluaraga berencana sehingga keluarga [1]berkualitas dapat terwujud.
Hasil laporan BKKBN tahun 2012 menyatakan bahwa angka persentase jumlah [2] PUS umur di bawah 20 tahun secara nasional adalah 3,88%, jumlah PUS (Pasangan Usia Subur) pada usia 20 – 29 tahun sebanyak 33,85% dan PUS usia di atas 30 tahun berada pada angka 62,28%. Sahabat muda, wanita Indonesia yang telah menikah pada usia 15 – 20 tahun berada pada angka yang cukup besar yaitu 1.768. 557 jiwa. Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah pendidikan keluarga berencana merupakan pendidikan yang wajib dan telah dimiliki oleh generasi muda Indonesia sebelum melakukan pernikahan.
Inilah pendidikan KB yang wajib diketahui oleh genarasi muda.
1. Tujuan utama dari pendidikan KB adalah agar generasi muda memiliki pengetahuan, kesadaran, sikap dan perilaku reproduksi yang rasional dan bertanggung jawab terhadap masalah kependudukan dalam rangkan pelembagaan dan pembudayaan norma keluarga kecil dan bahagia dan sejahtera.
2. UU Republik Indonesia Nomor 1 Tentang Perkawinan Menyatakan bahwa Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 tahun (sembilan belas) tahun dan pihak wanita usia mencapai usia 16 (enam belas) tahun. Walaupun pemerintah telah mengizinkan pria umur 19 (sembilan belas) tahun dan wanita umur 16 (enam belas) tahun bisa melangsungkan perkawinan, yang perlu sahabat muda ketahui adalah kedua pihak tersebut telah melakukan persiapan yang baik sebelum melakukan perkawinan.
Persiapan itu antara lain:
a. Pembianan kesehatan, Kesehatan calon suami dan istri sangat berpengaruh dalam membangun sebuah keluarga. Suami istri yang sehat akan menjamin ketentraman berkeluarga.
b. Umur untuk melangsungkan perkawinan. Calon suami dan istri telah dewasa baik fisik maupun mental. Sahabat muda, usia perkawinan sebaiknya antara 20 tahun untuk wanita dan 25 tahun pria. Wanita pada umur tersebut telah dewasa secara fisik dan mental untuk menjadi ibu rumah tangga  dan pria telah siap dan mampu menjadi pelindung keluarga.
c. Kelangsungan untuk membiayai kehidupan rumah tangga. keluarga yang memiliki ekonomi yang cukup, memiliki kemungkinan untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera.
Apakah sahabat muda sudah memenuhi semua persiapan ini? jika ya, maka sahabat muda sudah bisa merencanakan pesta pernikahan. Namun, jika tidak maka diharapkan sahabat jangan terburu-buru dalam melaksanakan perkawinan. [3] Menikah di usia dini bagi perempuan berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan karena organ tubuh terutama yang berkaitan dengan alat reproduksi. Bahkan, anak yang dilahirkan pun sangat besar kemungkinan lahir dengan berat badan rendah dan berisiko tubuh pendek atau stunting (kuntet).
3. Mengatur jumlah anak yang diinginkan. Sahabat muda, hal ini yang sering diabaikan oleh pasangan yang telah membentuk rumah tangga. Mereka seakan tidak peduli dengan kelangsungan hidup keluarga yang telah mereka bentuk. Hal apa saja yang dianjurkan:
a. Anak adalah anugerah Tuhan. Anak mendapatkan kasih sayang yang cukup, kesehatan, pendidikan dan bimbingan dari kedua orang tua. Jadi, orang tua harus merencanakan semuanya dengan baik.
b. Setelah melahirkan anak, seorang ibu memerlukan waktu yang cukup untuk mengembalikan kesehatannya. Biasanya membutuhkan waktu 3 tahun. Disamping itu, perlu juga diperhitungkan biaya yang dibutuhkan dimulai dari mengandung hingga melahirkan.
c. Setelah mengandung, seorang ibu menyusui bayinya. ASI (Air Susu Ibu) paling sempurna untuk bayi karena padat gizi, praktis dan terjamin kebersihannya. Bila ibu yang menyusui hamil kembali, kemungkinan besar air susu ibu akan berhenti.
d. Kemampuan seseorang dalam memperoleh pengahasilan relatif terbatas. Oleh karena itu biaya kehidupan keluarga kecil relatif lebih ringan dibandingkan dengan keluarga besar.
e. Dari segi kesehatan, usia terbaik bagi seorang ibu untuk melahirkan adalah 20 - 30 tahun. Bila seorang ibu melahirkan sebelum dua puluh tahun atau sesudah tiga puluh tahun, maka resiko kematian ibu karena melahirkan jauh lebih tinggi dari persalinan yang terjadi pada usia 20 – 30 tahun.
Dari ke lima penjelasan di atas berdasarkan pertimbangan kependudukan dan kesehatan dapat disimpulkan bahwa jumlah anak ideal adalah 2 (dua), atau 3 (tiga) saja.
4. Anjuran perencanaan keluarga.
a. Tahap menunda kesuburan atau menunda kelahiran anak pertama. Dianjurkan sebaiknya wanita menunda kelahiran anak pertama sampai berumur 20 tahun. Pada tahap ini kontrasepsi dipakai paling lama 4 tahun, dituntut sangat aman, sangat [4] reversibel. Kegagalan tidak dianggap malapetaka.
b. Tahap menjarangkan kehamilan. Kontrasepsi sekurang-kurangnya dipakai satu tahun atau selama-lamanya 3 tahun. Hal ini dilaksanakan untuk menjarangkan kelahiran sehingga ibu dapat menyusui anaknya dengan cukup banyak dan lala. Efektifitas kontrasepsi tidak dituntuk terlalu tinggi, akan tetapi reversibilitas masih dituntut setinggi mungkin. Kegagalan tidak dianggap malapetaka.
c. Tahap menyudahi kesuburan. Tahap ini menolak kelahiran anak selanjutnya. Efektifitas kontrasepsi dituntut sangat tinggi, karena kegagalan tidak dapat diterima. Kontrasepsi akan dipakai dalam waktu lama, kira-kira 10-15 tahun sampai wanita mengalami mati haid (menopause).
Sahabat muda, setidaknya empat bagian inilah yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh pasangan keluarga yang belum atau telah terbentuk. Sahabat muda disarankan untuk melakukan konsultasi ke bidan atau dokter sehingga pelaksanaan kontrasepsi dapat berjalan dengan baik dan benar.
          Dari pendidikan KB ini diharapkan generasi muda memiliki pengetahuan tentang keluarga berencana dan manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga, anak, lingkungan dan bangsa. Generasi muda adalah penentu tercapainya pembangunan nasional [5].
[1]Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
[2]Pasangan suami istri yang istrinya berumur antara 15-49 tahun, dan secara operasional pula pasangan suami istri yang istri berumur kurang dari 15 tahun dan telah kawin atau istri berumur lebih dari 49 tahun tetapi belum menopause*.
[3] Bkkbn.go.id, Menikah Dini Berisiko Punya Anak Kuntet, http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=835, diakses 13 Juni 2014, jam 09.30 WIB.
[4] Metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk punya anak lagi.

[5] Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
BKKBN, 1989, Buku Sumber Pendidikan KB, Jakarta : BKKBN

Faktor : Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat #1

Setiap keluarga yang telah terbentuk menginginkan keluarga yang sejahtera. Wikipedia : Sejahtera adalah keadaan yang baik, kondisi manusia dimana orang – orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai. Kesejahteraan keluarga bisa diartikan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup keluarga berupa kebutuhan jasmani (makanan bergizi, pakaian, perumahan dan sebagainya) dan kebutuhan rohani (keamanan, cinta kasih, kedamaian dan kebahagiaan). Permasalahan yang terjadi di negara kita saat ini adalah alat pemenuhan kebutuhan terbatas. Coba kita bayangkan jika sebuah keluarga memiliki 4 orang anak dengan penghasilan kepala keluarga tidak lebih dari 1 juta rupiah. Apakah semua kebutuhan anggota keluarganya terpenuhi? Apakah semua anaknya bisa sekolah? Jawabannya tidak. Hal yang perlu dilakukan adalah merencanakan jumlah keluarga.  Dengan perencanaan ini, maka ada penyesuaian antara kemampuan keluarga (orang tua) menyediakan sarana pemenuhan kebutuhan dengan jumlah anggota keluarga yang membutuhkannya.
          Kebutuhan keluarga yang lain adalah perumahan dan kesehatan. Jumlah anggota keluarga sangat berpengaruh terhadap kemampuan sebuah keluarga memiliki rumah sehat. Keluarga kecil memiliki kesempatan besar untuk menghimpun dana (menabung) untuk membiayai pembanguan/pembelian sebuah rumah. Kenyataan di negara kita, standar rumah sehat masih belum terpenuhi. BPS melaporkan bahwa pada tahun 2011, pesentase rumah tangga dengan akses sanitasi layak sebesar 54,99%. Dengan kata lain, 45% rumah tangga di Indonesia tidak memiliki akses sanitasi layak. Apakah keadaan seperti ini yang terus kita harapkan?
          Jumlah anggota keluarga sangat berpengaruh terhadap pendidikan anggota keluarga. Pendidikan bisa didapatkan oleh seorang anak di lingkungan keluarga dan lingkungan formal. Keluarga kecil memiliki kemampuan besar dalam menyekolahkan anaknya. Hal ini disebabkan sebagian pendapatan keluarga bisa digunakan untuk menunjang keperluan anak di sekolah. Lalu, apa yang terjadi di negar kita? Fakta nyata, rata – rata jumlah anggota keluarga Indonesia adalah 4 orang (BPS 2010). Lalu apa yang terjadi? Pada tahun 2011 jumlah penduduk Indonesia tidak pernah sekolah 20,56 juta (8,42%). Ini adalah bukti bahwa sebagian besar keluarga di negara kita tidak mampu menyekolahkan anaknya.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah kesenjangan sosial ekonomi antara lain sebagai berikut:
1. 2 anak cukup.
2. Meningkatkan kualitas SDM. Pendidikan formal, non formal dan informal (keterampilan).
3. Kenaikan UMR atau UMK.
4. Pajak progresif untuk menambah dana sosial.
5. Menciptakan kegiatan formal di tempat-tempat yang kumuh dan sarang kriminalitas.
6. Memajukan peradaban.
7. Perencanaan kota dan implementasi yang inovatif.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
BKKBN, 1989, Buku Sumber Pendidikan KB, Jakarta : BKKBN
Haryono, Paulus, 2007, Sosiologi Kota Untuk Arsitek, Jakarta : Bumi Aksara

Saturday, April 12, 2014

Masalah Kependudukan : Ancaman Banjir #4

Hujan yang melanda kota Medan, 12 April 2014 telah membuat sejumlah ruas jalan tergenang air. Salah satu penyebabnya adalah sampah. Mari kita jaga lingkungan kita!




Thursday, April 10, 2014

Masalah Kependudukan : Benarkah Hanya Orang Miskin yang Terima Raskin? #3

Program beras untuk masyarakat miskin (raskin) masih bermasalah, salah satunya adalah karena tidak tepat sasaran. Patokan orang  miskin yang dituju oleh pemerintah pusat dalam perencanaan selalu meleset seperti dikutip dari Detik Finance.
Tahun 2014, misalnya raskin disiapkan untuk menjangkau 15,5 juta Rumah Tangga Miskin (RTS) dengan jatah 15 kg per RTS per bulan selama 12 kali (setahun). Anggarannya adalah sebesar Rp 18,8 triliun.
Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani mengatakan perencanaan jumlah penerima raskin diawali dengan asumsi data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian diolah oleh tim yang berada di bawah Kemenko Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra).
"Pemda sudah ada manajemen tersendiri yang mengurusi hal itu. Tapi itu tidak menggunakan data 15,5 juta RTS yang dipunya tadi saat awal. Jadi pembagiannya sudah berbeda," kata Askolani.
"Ada bantuan-bantuan penyaluran dari kelompok masyarakat di sana. Ada yang dekat dibagi, padahal bukan orang miskin, misalnya cuma setengah miskin atau orang mampu sebenarnya karena kenal juga dibagi," imbuhnya.

Berdasarkan data BPS, pada bulan September 2013 penerima raskin adalah sebesar 34,6 juta RTS dengan besaran 16,87 kg. Padahal seharusnya adalah 15,5 juta RTS dengan 30 kg per RTS. Karena ada tambahan raskin sebagai dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jefriando, maikel, 2014, Benarkah Hanya Orang Miskin yang Terima Raskin Tiap Bulan? p.1-2, http://finance.detik.com/read/2014/04/11/072513/2551853/4/1/benarkah-hanya-orang-miskin-yang-terima-raskin-tiap-bulan . 11 April 2014 (08:45)

Wednesday, April 9, 2014

Masalah Kependudukan : Indonesia Kehilangan Trotoar #2

Ruang publik di kota-kota besar Indonesia tampak tidak beraturan. Hal ini disebabkan oleh ruang publik tersebut diperubutkan oleh banyak pihak.  Pihak-pihak tersebut adalah pengguna lalu lintas, pedagang kaki lima, pejalan kaki, pengguna tempat parkir, dan pengguna papan reklame yang tidak berturan. Tempat-tempat tertentu diperebutkan juga oleh kelompok masyarakat kecil yang melakukan kegiatan ekonomi dan kelompok masyarakat atas dan menengah yang ingin melakukan aktivitas rekreasi, olahraga, maupun santai sejenak.

Sahabat muda, inilah persoalan ruang publik kota di negara Indonesia. Berbagai upaya untuk mengurangi persoalan ruang publik tampaknya belum membuahkan hasil. [1] Wakil Menteri Pekerjaan Umum (WamenPU) Hermanto Dardak mengungkapkan penataan ruang di Indonesia masih menjadi perhatian khusus : “Upaya membuat ruang terbuka hijau itu nggak mudah. Untuk ruang yang sehat di perkotaan itu kita perlu 30% ruang terbuka hijau. 10 private di perumahan, dan 20% publik," Suatu hal yang ironis bahwa Indonesia memiliki lahan yang sangat luas memiliki persoalan dengan ruang publik.
Di kota Medan. Trotoar sebagai tempat bagi pejalan kaki telah beralih fungsi menjadi tempat pedagang kaki lima. Lalu pernahkah kita mengintip perjuangan pedagang kaki? Sahabat muda, pedagang kaki lima mempunyai suka dan duka yang terkadang memberikan sebuah pertanyaan yang besar, “siapakah yang salah”? PKL merupakan masyarakat yang berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Lalu, pertanyaan berikutnya adalah apa penyebabnya?

Ke-dua pertanyaan di atas akan dijawab oleh penyebab yang berikut ini:
1. Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat. Persoalan PKL yang menjamur berkaitan dengan minimnya sektor formal yang mampu menampung mereka dan rendahnya SDM. Hal ini berpengaruh pada kesempatan kerja yang layak.

2. Kemampuan pemerintah mengantisipasi, merencanakan, dan mengaplikasikan kawasan yang tertata secara ideal dibarengi dengan komitmen masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam mewujudkan ruang publik yang ideal.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Haryono, Paulus, 2007, Sosiologi Kota Untuk Arsitek, Jakarta : Bumi Aksara
Suhendra, zulfi, 2013, Wamen PU: Kita Punya PR Panjang Wujudkan Tata Ruang yang Baik, http://finance.detik.com/read/2013/11/10/132439/2408595/4/wamen-pu-kita-punya-pr-panjang-wujudkan-tata-ruang-yang-baik. 09 April 2014 (13:11)

Tuesday, April 8, 2014

Masalah Kependudukan : Parit Menggantikan Tong Sampah #1

Sahabat muda, saya mengutip sebuah kalimat dari sebuah topik “lingkungan pada sebuah surat kabar [1]. Judul yang “nyeleneh,” yaitu “Ketika Parit Menggantikan Tong Sampah,” tapi sungguh menggambarkan kebiasaan kita sehari-hari. Kalimat “masalah sampah dan lingkungan bias dilihat sebagai masalah mental masyarakat,” memberikan sebuah penegasan bahwa kita harus memberikan perhatian lebih terhadap lingkungan kita. Sahabat muda, setiap dari kita menghasilkan sampah sekitar 2,5 liter per hari [2]
Angka 2,5 liter merupakan angka yang akan besar jika faktor pengalinya juga besar. Sahabat muda, Coba bayangkan sampah tersebut disatukan, maka Indonesia mampu menghasilkan 625 juta liter sampah setiap harinya. Jadi, berapa volume candi Borobudur sampah yang telah kita hasilkan?
Sahabat muda, akar dari permasalahan adalah jumlah penduduk Indonesia yang semakin banyak. Benar adanya bahwa masalah sampah dan lingkungan bias dilihat sebagai masalah mental masyarakat. Inilah penyebab ke-dua.
Langkah sederhana berikut ini bisa memberikan dampak yang besar pada lingkungan.
1. Biasakan meletakkan keranjang sampah di dalam ruangan/kamar. Untuk mahasiswa yang agak malas untuk membuang sampah, cara ini adalah yang paling efektif karena kita lebih peka dan segera membuangnya setelah keranjang penuh.
2. Untuk sahabat muda yang sering berbelanja di pasar. Disarankan membawa keranjang/tas belanja. Hal ini dapat mencegah banyak plastik yang terbawa oleh kita saat berbelanja.
3. Buanglah sampah pada tempatnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Nasib, 2013. Ketika Parit Menggatikan Tong Sampah. Harian Analisa. 15 Desember. Halaman 19. Medan.

[2] Kebersihan. jakarta. go. id, Pengolahan Sampah, p.1, 2014, http://kebersihan.jakarta.go.id/index.php/article-pengelolaan-sampah/item/82-pengelolaan-sampah. 27 Maret 2014 (9:55).

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More